Pages

  • Twitter
  • Facebook
  • Google+
  • RSS Feed

Friday, December 21, 2012


Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat
terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning,
dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di
sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima
puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat
adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu
di tangannya.


"Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. Aku
terpaku, terlalu
takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun
mengaku, jadi
Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian
berdua layak dipukul!"
Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.
Tiba-tiba, adikku
mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang
melakukannya!"

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku
bertubi-tubi. Ayah begitu
marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya
sampai Beliau kehabisan
nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu
bata kami dan
memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah
sekarang, hal memalukan
apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? ...
Kamu layak
dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan
kami. Tubuhnya penuh
dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata
setetes pun. Di
pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis
meraung-raung.
Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan
berkata, "Kak, jangan
menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki
cukup keberanian
untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi
insiden tersebut
masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah
akan lupa tampang
adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku
berusia 8 tahun. Aku
berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia
lulus untuk masuk
ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya
diterima untuk
masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah
berjongkok di
halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi
bungkus. Saya
mendengarnya memberengut, "Kedua anak kita memberikan
hasil yang begitu
baik...hasil yang begitu baik..." Ibu mengusap air
matanya yang mengalir
dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin
kita bisa membiayai
keduanya sekaligus?"

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah
dan berkata,
"Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah
cukup membaca
banyak buku." Ayah mengayunkan tangannya dan memukul
adikku pada
wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu
keparat lemahnya?
Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan
saya akan
menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!" Dan begitu
kemudian ia
mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam
uang. Aku menjulurkan
tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang
membengkak, dan
berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan
sekolahnya; kalau
tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang
kemiskinan ini." Aku,
sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi
meneruskan ke universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang,
adikku meninggalkan
rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit
kacang yang sudah
mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan
meninggalkan secarik
kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke universitas
tidaklah mudah. Saya
akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang."

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku,
dan menangis dengan
air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu,
adikku berusia 17
tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan
uang yang adikku
hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di
lokasi konstruksi,
aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).
Suatu hari, aku
sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku
masuk dan
memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu
di luar sana!"

Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku
berjalan keluar, dan
melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor
tertutup debu semen dan
pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang
pada teman
sekamarku kamu adalah adikku?" Dia menjawab,
tersenyum, "Lihat bagaimana
penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka
tahu saya adalah
adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?"

Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku
menyapu debu-debu
dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam
kata-kataku, "Aku tidak
perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun
juga! Kamu adalah
adikku bagaimana pun penampilanmu..."

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut
berbentuk kupu-kupu.
Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan,
"Saya melihat semua
gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus
memiliki satu."
Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku
menarik adikku ke
dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu,
ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca
jendela yang pecah telah
diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah
pacarku pulang, aku
menari seperti gadis kecil di depan ibuku. "Bu, ibu
tidak perlu
menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan
rumah kita!" Tetapi
katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang
pulang awal untuk
membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka
pada tangannya? Ia
terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.."

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat
mukanya yang kurus,
seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan
sedikit saleb pada
lukanya dan mebalut lukanya. "Apakah itu sakit?" Aku
menanyakannya.


"Tida
k, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di
lokasi
konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap
waktu. Bahkan itu
tidak menghentikanku bekerja dan..." Ditengah kalimat
itu ia berhenti.
Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata
mengalir deras
turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia
26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali
suamiku dan aku
mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal
bersama kami, tetapi
mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali
meninggalkan dusun,
mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku
tidak setuju juga,
mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan
menjaga ibu dan ayah
di sini."

Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan
adikku mendapatkan
pekerjaan sebagai manajer pada departemen
pemeliharaan. Tetapi adikku
menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai
bekerja sebagai pekerja
reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk
memperbaiki sebuah kabel,
ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah
sakit. Suamiku dan
aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada
kakinya, saya
menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer?
Manajer tidak akan
pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti
ini. Lihat kamu
sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak
mau mendengar kami
sebelumnya?"

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela
keputusannya.
"Pikirkan kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan
saya hampir tidak
berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu,
berita seperti apa
yang akan dikirimkan?"

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar
kata-kataku yang
sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga
karena aku!"

"Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam
tanganku. Tahun
itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang
gadis petani dari
dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara
perayaan itu
bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati
dan kasihi?" Tanpa
bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku."

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah
kisah yang bahkan
tidak dapat kuingat. "Ketika saya pergi sekolah SD, ia
berada pada dusun
yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan
selama dua jam untuk
pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya
kehilangan satu
dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari
kepunyaannya. Ia
hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu.
Ketika kami tiba di
rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang
begitu dingin sampai
ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu,
saya bersumpah,
selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan
baik kepadanya."

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu
memalingkan perhatiannya
kepadaku.

Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku,
"Dalam hidupku, orang
yang paling aku berterima kasih adalah adikku." Dan
dalam kesempatan
yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan
perayaan ini, air mata
bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

Sangatlah berarti hidup ini :)

Friday, December 7, 2012



Tema Lomba
Tema Event Midpear Thread Competition 2012 adalah Indonesia-Ku. Tema boleh apa aja, yang jelas men-deskripsikan Tentang Indonesia

Reward :
Juara 1 : 1000 Point GRP/BRP + Tag 1st Thread Competition + Pulsa 150k
Juara 2 : 500 Point GRP/BRP + Tag 2nd Thread Competition + Pulsa 100k
Juara 3 : 250 Point GRP/BRP + Tag 3th Thread Competition + Pulsa 60k

Ayo buruan daftar dan ikut Lombanya !!
Ada Hadiah Jam Tangan Keren ini untuk Juara 1 dan 2 !!



Lomba berlansung : 3 Des - 20 Des



nb : hadiah akan terus bertambah





info lebih lanjut : 
http://midpear.com/forum/showthread.php?t=875

Thursday, November 29, 2012





Hi Gan&Sist

Buat kalian para Maniac Forum yang berminat bergabung sebagai member forum baru Midpear, kami membuka kesempatan kepada kalian untuk bergabung sebagai MODERATOR forum baru Midpear untuk room yang masih tersedia.


FORUM MIDPEAR: midpear.net

Nah, sebelumya ane jelasin dulu ya apa Tugas dan Syarat menjadi Moderator ;

TUGAS MODERATOR
  1. Mengawasi jalannya lalu lintas posting di room yang menjadi tanggung jawabnya agar berjalan sesuai dengan topiknya.
  2. Seorang Moderator hanya menjadi Moderator di forum yang menjadi tanggung jawabnya saja sedangkan di forum lainnya dia adalah member biasa.
  3. Moderator harus dapat menciptakan ide atau topik baru agar forum yang menjadi tanggung jawabnya menjadi lebih hidup dan dinamis.
  4. Memberi penjelasan dan bimbingan terhadap new member yang belum familiar dengan forum.
  5. Memberi peringatan kepada member apabila diskusi diforum dirasa sudah melenceng jauh dari topik bahasannya atau Out-Of-Topic (OOT).
  6. Melakukan tindakan menyortir, menghapus, memindahkan, mengunci, membuka maupun memecah topik tertentu apabila diperlukan agar supaya diskusi diforum bisa lebih fokus dan kondusif.
  7. Melaporkan dan atau mengusulkan kepada Administrator untuk melakukan tindakan banned atau daftar black list terhadap member yang dianggap telah menyalahi peraturan forum.
  8. Memberikan laporan secara berkala tentang forum yang menjadi tanggung jawabnya kepada Administrator.
  9. Menjalankan tugas dan tanggung jawab nya sesuai dengan peraturan.

SYARAT:
  1. Memiliki waktu luang untuk Online setiap hari min 2 jam.
  2. Mempunyai semangat untuk memajukan forum ini.
  3. Memberikan kontribusi berguna untuk forum dan member lain.
  4. Sudah Memiliki Thread/Post Minimal 25 Thread Post. (di SF yang dituju)
  5. Berkelakuan baik.
  6. Ramah dan tidak sombong.
  7. Dedicated sama kerjaannya! Karena kita disini sukarela tapi juga punya rules buat diikutin.
  8. UMUR > 17 TAHUN


-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Cara Mendaftar Jadi Moderator??

Gampang aja, jika kamu sudah merasa bisa memenuhi syarat diatas bisa langsung berikan data dengan format di bawah melalui PM ke Admin Midpear.

Format:
*Nama: (wajib Nama Asli)   
*Username Forum:   
*Tgl/bulan/tahun lahir:   
*ID YM :   
*FB : (wajib Prime FB Gan)   
 Scan Foto/KTP: (tidak wajib, sebaiknya via Upload)   
*Daerah Asal:   
*SF yang dituju: (Pilih SF yang akan dimoderasi, max 3 SF) 
*Sehari online berapa jam?:   
*Visi & Misi bila terpilih:

*wajib diisi
Kesempatan ini terbuka untuk siapa saja dan keputusan yang di buat oleh Admin Midpear.com dan keputusan bersifat mutlak.


WAKTU PELAKSANAAN EVENT:

Pendaftaran : 23 November 2012 - 25 Desember 2012
Proses Seleksi : 25 Desember 2012 - 31 Desember 2012
Pengumuman : 1 Januari 2013

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Cara Mendaftar Jadi Moderator??

Gampang aja, selengkapnya

Sunday, November 18, 2012


Oleh : Ustadz Felix Siauw 

Cacat Bawaan KapitalismeKapitalisme adalah derivat ideologi sekularisme yang telah terbukti membawa dunia pada jurang kehancuran, yag kaya bertambah kaya dan yang miskin semakin terjepit. Terbukti pada tahun 1960, 20% penduduk dunia terkaya menikmati 75% pendapatan dunia; sedangkan 20% penduduk termiskin hanya menerima 2,3% pendapatan dunia. Pada tahun 1997, 20% penduduk terkaya itu menikmati 80% pendapatan dunia. Sebaliknya, 20% penduduk termiskin menerima 1% saja pendapatan dunia (Spilanne, 2003). Krisis ekonomi dunia sudah terjadi sejak tahun 1907, disusul dengan krisis ekonomi tahun 1923, 1930, 1940, 1970, 1980, 1990, dan 1998 – 2001 bahkan sampai saat ini. Di Asia Tenggara sendiri —khususnya Thailand, Malaysia dan Indonesia— krisis pernah terjadi pada tahun 1997-2002 hingga saat ini.
Krisis ekonomi dunia yang saat ini kita rasakan semuanya bersumber dari cacat bawaan sekularisme sendiri, dalam sistem ekonomi cacat bawaan ini ditandai dengan 2 hal: sistem mata uang kertas dan sistem ribawi, yang akan dijelaskan lebih terperinci dibawah ini
 
© 2012. Design by Main-Blogger - Blogger Template and Blogging Stuff