Pages

  • Twitter
  • Facebook
  • Google+
  • RSS Feed

Tuesday, October 23, 2012


Ini adalah suatu kisah penuh hikmah yang sangat menarik untuk kita ambil hikmahnya. Cerita ini adalah cerita orang sakit bisa sembuh hanya karena rasa syukur kepada Allah. Padahal sebelumnya dia telah berobat ke dokter namun tak sembuh-sembuh. Penyakit apa itu? Memang biasanya segala penyakit fisik adalah timbul dari kelemahan jiwa kita dan faktor utama bukan berasal dari virus dan sebagainya. Mari kita simak untuk lebih jelasnya.

Pak Hasan, adalah jama’ah dari embarkasi Surabaya. Ia dan istrinya berangkat ke Mekkah kebetulan pada tahap gelombang kedua. Artinya mereka datang dari Indonesia langsung ke Mekkah terlebih dahulu, baru kemudian ke Madinah. Kondisi pak Hasan ketika berangkat memang agak sakit. Batuk pilek setiap hari. Sampai dipakai berbicara saja tenggorokannya sudah terasa sakit. Batuk pilek yang semacam itu memang membuat badan begitu capek lunglai. Semua persendian terasa sakit. Sehingga menjadikan tubuh menjadi malas untuk diajak beraktivitas.

Beberapa kali pak Hasan diobati oleh dokter kloternya. Tetapi tetap saja sakitnya tidak bisa sembuh. Rasanya semua macam obat yang berhubungan dengan penyakitnya sudah ia minum. Tetapi tetap saja badan lunglai, kepala pusing bahkan batuknya tidak pernah berhenti. Badan dengan kondisi semacam itu, mengakibatkan pak Hasan sehari-harinya berdiam diri saja di hotel. Beberapa kali istrinya mengajaknya ke masjidil Haram, tetapi rupanya tubuh pak Hasan tidak bisa diajak kompromi, ia malas untuk pergi ke masjid.

“Aku belum bisa bu, dan belum kuat untuk pergi ke masjid. Ibu dulu aja-lah. Nanti setelah badanku sembuh aku akan ke masjid dan akan melakukan ibadah dengan sebaik-baiknya…” demikian kata pak Hasan kepada istrinya. Karena sudah beberapa kali, jawaban pak Hasan selalu seperti itu, maka pada hari itu istri pak hasan memohon dengan agak setengah memaksa kepada pak Hasan agar siang itu mereka bisa bersama ke masjid untuk melakukan ibadah. Baik itu thawaf, maupun shalat-shalat wajibnya.

Maka dengan agak terpaksa, berangkat juga mereka ke masjid. Pak Hasan di sepanjang perjalanan menuju masjid tiada henti-hentinya batuk. Bahkan kakinya begitu capek dipakai untuk berjalan. Tetapi toh, akhirnya sampai juga mereka di masjidil Haram. Meskipun jarak dari maktab mereka menuju masjid cukup jauh. Sesampai di masjid, mereka mencari tempat yang cukup nyaman. Pak Hasan dan istrinya melakukan thawaf sunah sebagai penghormatan masuk masjidil Haram, sebelum mereka melakukan ibadah lainnya.

Ketika pak Hasan dan istrinya melakukan thawaf inilah bagian dari cerita ini dimulai…
Dengan terbata-bata, dan masih digandeng oleh istrinya pak Hasan mulai melakukan thawaf. Diayunkannya kaki kanannya untuk memulai thawaf. “Bismillaahi allaahu akbar…!”
Demikian kalimat pertama yang dilontarkan pak Hasan sebagai pertanda ia memulai thawafnya. Maka dengan hati-hati sekali, karena khawatir badannya bertambah lunglai, pak Hasan melangkahkan kakinya berjalan memutari Ka’bah. Pada saat pak Hasan beberapa langkah memulai thawafnya itu, tiba-tiba di sebelah kanannya, yang hampir berhimpitan dengan pak Hasan, ada seorang bertubuh kecil yang juga bergerak melakukan thawaf, beriringan dengan pak Hasan. Entah apa yang menyebabkan pak Hasan tertarik dengan orang ‘kecil’ itu, sambil berjalan lambat pak Hasan memperhatikan orang itu lebih seksama.

“Mengapa orang itu tubuhnya pendek, bahkan cenderung seperti anak kecil ?” pikirnya.
Setelah beberapa lama pak Hasan memperhatikan orang tersebut, di tengah riuhnya para jamaah yang juga sedang melakukan thawaf itu, tiba-tiba pak Hasan menjerit lirih ! ” …………….akh ! ” katanya.
Begitu terkejutnya pak Hasan, sampai-sampai pak Hasan agak terhenti langkahnya. Anehnya, orang itu pun ikut berhenti sejenak, kemudian menoleh kepada pak Hasan sambil tersenyum. Ketika pak Hasan berjalan lagi, dia pun berjalan lagi, dan terus mengikuti di samping pak Hasan. Ketika pak Hasan mempercepat langkah kakinya, orang itu pun ikut mepercepat gerakannya, sehingga tetap mereka berjalan beriringan.

Muka pak Hasan kelihatan pucat pasi. Bibirnya agak gemetar menahan tangis. Ia betul-betul terpukul oleh perilaku orang tersebut. Seperti dengan sengaja, orang itu terus mengikuti gerakan pak Hasan dari samping kanan. Bahkan yang membuat pak Hasan mukanya pucat adalah orang tersebut selalu tersenyum, setelah menoleh ke arah pak Hasan.

Siapakah orang tersebut ?

Ternyata dia adalah seorang yang berjalan dan bergerak thawaf mengelilingi ka’bah dengan hanya menggunakan kedua tangannya saja. Dia orang yang tidak memiliki kaki….!
Kedua kakinya buntung sebatas paha. Sehingga ia berjalan hanya dengan menggunakan kedua tangannya. Bulu kuduk pak Hasan merinding, jantungnya seolah berhenti berdegub. Keringat dingin membasahi seluruh pori-pori tubuhnya… Pak Hasan merintih dalam hatinya :

“…ya Allaah ampuni aku ya Allaah…, ampuni aku…”
Air mata pak Hasan tidak bisa dibendung lagi. Sambil tetap berjalan pak Hasan terus mohon ampun kepada Allah. Tanpa terasa, pak Hasan sudah memutari ka’bah untuk yang ke 2 kalinya. Dan pak Hasan pun masih terus menangis. Ingin rasanya ia berlari memutari ka’bah itu. Ingin rasanya ia menjerit keras-keras untuk melampiaskan emosinya….pak Hasan tidak tahu bahwa pada putaran yang kedua itu ia sudah tidak bersama lagi dengan orang tanpa kaki tersebut. Tidak tahu ke manakah perginya orang cacat itu.

Seorang yang selalu tersenyum meskipun tanpa kedua kaki.
Apa gerangan yang dipikirkan pak Hasan saat itu ?  Pak Hasan begitu malu pada dirinya sendiri! Apalagi kepada Allah Swt. Pak Hasan merasa bahwa memang sakit. Sakit flu, batuk, badan capek. Dan sudah beberapa hari berdiam diri saja di hotel tidak ke masjid untuk thawaf. Dengan alasan badan capek, tenggorokan sakit, bahkan obat dokter tidak ada yang bisa menyembuhkannya. Sekarang, ditengah-tengah hiruk pikuknya para jama’ah yang sedang melakukan thawaf, ternyata ada seorang yang tidak punya kaki, yang kondisi tubuhnya sangat menyedihkan, tapi dengan mulut tersenyum ia melakukan thawaf…

Akh ! ….betapa terpukulnya harga diri pak Hasan.
Ia punya kedua kaki, badannya tegap, pikirannya cerdas, datang jauh dari Indonesia, tetapi terserang penyakit ringan sejenis flu saja sudah tidak mau beribadah ?
Sementara orang itu…..

Sungguh pak Hasan tidak kuasa bicara lagi. Ingin rasanya ia menjerit mohon ampunan Allah Swt…. Atas kesalahan fatal, yang ia lakukan. Dan sejak saat itu, pak Hasan tiba-tiba dapat bergerak gesit. Ia berjalan penuh dengan semangat mengelilingi ka’bah pada putaran-putaran berikutnya. Dan secara tidak ia sadari badan pak Hasan menjadi kuat. Ia tidak batuk-batuk lagi, bahkan tenggorokannya terasa begitu ringan, ketika dipakai untuk berdo’a kepada Allah…!
Istri pak Hasan yang berjalan di samping pak Hasan, tidak mengetahui secara detail, apa yang terjadi dalam diri pak Hasan. Yang ia tahu tiba-tiba pak Hasan tidak batuk lagi, jalannya tidak lamban, bahkan cenderung gesit. Ah, rupanya pak Hasan sudah sembuh, Ia disembuhkan oleh Allah lewat ‘peragaan’ orang cacat, yang selalu tersenyum meskipun ia tidak punya kaki. Obat dokter tidak bisa menyembuhkan pak Hasan, justru thawaf seorang cacat-lah, yang menjadi obat mujarabnya.. Mengapa bisa demikian ?

Sebab begitu pak hasan menyadari akan kesalahannya, ia langsung mohon ampun sejadi-jadinya atas kekeliruan yang telah ia lakukan. Penyesalan yang tiada terhingga itulah rupanya obat yang sesungguhnya.(QS. Hud (11) : 3)

 ”Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu, mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat. (QS. Hud (11) : 90)

"Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Penyasih." [QS. Huud: 90]

Sembuhnya pak Hasan, karena rasa penyesalan yang mendalam. Sembuhnya pak Hasan karena ia bertaubat pada saat itu juga. Sembuhnya pak Hasan, karena Allah Dzat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu itu telah meridhainya. Sembuhnya pak Hasan karena Allah memberikan sebuah obat berupa sebuah adegan atau suguhan menarik, yang sangat mempengaruhi jiwa pak Hasan.

dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat”. QS. Asy-Syuaraa’ (26) : 80-82

Kesimpulan dan pelajaran

Kita sering mengeluh dengan keadaan kita karena kita tidak mampu memandang sekitar kita, pikiran kita sempit karena apa yang ada diri kita selalu dicerminkan kepada orang yang lebih daripada kita misalnya orang sakit yang memandang orang sehat sehingga tidak mau bersyukur dengan keadaan yang ada pada dirinya, akhirnya berawal dari ketidak mau bersyukur itu timbulah rasa malas, rasa rendah diri, tidak punya kepercayaan diri dan sebagainya.  Dan lebih parah kita sering mengeluh kepada Allah. Padahal Allah tidak memberi ujian melebihi kemampuan orang.  Dan Allah tidak memberikan ujian melainkan supaya kita menjadi orang yang lebih kuat secara spiritual. Dan kuatnya spiritual/keimanan adalah kunci kebahagiaan dunia dan akhirat.

Berbeda keadaan jika kita bisa memandang sekitar kita yang lebih buruk keadaannya daripada kita. Misalnya orang sakit memandang orang cacat tadi. Sehingga kita bisa berpikir orang yang lebih buruk keadaannya daripada kita saja kita bisa melakukannya mengapa kita yang lebih baik keadaanya tidak bisa melakukannya. Dari hal itu akan timbul rasa syukurnya kepada Allah bahwa dia masih dikarunai nikmat yang lebih baik daripada orang lain, rasa syukur akan menimbulkan semangat yang besar sehingga yang lemah akan menjadi kuat, yang sakit bisa jadi sehat, yang bodoh akan menjadi pandai, yang miskin bisa berhasil jika mau berusaha, yang malas menjadi rajin dan sebagainya.

Memanglah sebagai manusia kita harus sadari kekurangan kita yang selalu “mendongak keatas dan tidak pernah memandang kebawah” atau selalu memandang orang yang lebih baik daripada kita dan jarang sekali melihat orang yang kemampuannya dibawah kita, sehingga kita merasa kecil dan rendah diri dihadapan manusia. Tidak bersyukur dengan apa yang ada.

Ingatlah bahwa Rasulullah saw pernah bersabda “Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu. Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan Sesungguh syukur mendatangkan nikmat yang banyak dan kufur mendatangkan azab yang pedih. Kekufuran berangkat dari mengeluh daripada apa yang Allah karuniakan kepada kita tidak mau bersyukur dengan apa yang ada, selalu menuntut keadaan. Allah berfirman : "Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".(Ibrahim ayat 7).

Wallahu’alam

Sunday, October 21, 2012


Ini cerita dari Jepang kuno. Mudah2an bisa diambil hikmahnya


Konon pada jaman dahulu, di Jepang ada semacam kebiasaan untuk membuang orang lanjut usia ke hutan. Mereka yang sudah lemah tak berdaya dibawa ke tengah hutan yang lebat, dan selanjutnya tidak diketahui lagi nasibnya.

Alkisah ada seorang anak yang membawa orang tuanya (seorang wanita tua) ke hutan untuk dibuang. Ibu ini sudah sangat tua, dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Si anak laki-laki ini menggendong ibu ini sampai ke tengah hutan. Selama dalam perjalanan, si ibu mematahkan ranting-ranting kecil. Setelah sampai di tengah hutan, si anak menurunkan ibu ini.

"Bu, kita sudah sampai",kata si anak. Ada perasaan sedih di hati si anak. Entah kenapa dia tega melakukannya.
Si ibu , dengan tatapan penuh kasih berkata:"Nak, Ibu sangat mengasihi dan mencintaimu. Sejak kamu kecil, Ibu memberikan semua kasih sayang dan cinta yang ibu miliki dengan tulus. Dan sampai detik ini pun kasih sayang dan cinta itu tidak berkurang.
Nak, Ibu tidak ingin kamu nanti pulang tersesat dan mendapat celaka di jalan. Makanya ibu tadi mematahkan ranting-ranting pohon, agar bisa kamu jadikan petunjuk jalan".
Demi mendengar kata-kata ibunya tadi, hancurlah hati si anak. Dia peluk ibunya erat-erat sambil menangis. Dia membawa kembali ibunya pulang, dan ,merawatnya dengan baik sampai ibunya meninggal dunia.

Mungkin cerita diatas hanya dongeng. Tapi di jaman sekarang, tak sedikit kita jumpai kejadian yang mirip cerita diatas. Banyak manula yang terabaikan, entah karena anak-anaknya sibuk bisnis dll. Orang tua terpinggirkan, dan hidup kesepian hingga ajal tiba. kadang hanya dimasukkan panti jompo, dan ditengok jkalau ada waktu saja.


Kiranya cerita diatas bisa membuka mata hati kita, untuk bisa mencintai orang tua dan manula. Mereka justru butuh perhatian lebih dari kita, disaat mereka menunggu waktu dipanggil Tuhan yang maha kuasa. Ingatlah perjuangan mereka pada waktu mereka muda, membesarkan kita dengan penuh kasih sayang, membekali kita hingga menjadi seperti sekarang ini.

Kesuksesan ini adalah koleksi kata kata bijak tentang orang sukses dan kesuksesan. Kata kata ini bisa menjadi motivasi kita untuk meraih kesuksesan yang kita impikan. Setiap orang pasti memiliki ambisi untuk bisa mendapatkan kesuksesan, namun terkadang kegagalan menghantui dan terus saja membuat bimbang. Oleh karena itu, kata kata mutiara kesuksesan ini semoga saja bisa menjadi kata kata motivasi meraih kesuksesan yang kita inginkan. 

Albert Einstein berkata, "Cobalah untuk tidak menjadi orang yang sukses; lebih baik cobalah jadi orang yang berguna." 
Orang bijak mengatakan, “Jangan pernah mencari kunci kesuksesan karena pintunya selalu terbuka. Kau hanya butuh menemukan pintu tersebut.” 
Kin Hubbart pernah berkata, “Rahasia kesuksesan itu tak pernah ada. Apa kau pernah mendengar orang sukses mengatakannya?” 
Joe Paterno mengatakan, "Kesuksesan tanpa kemuliaan adalah (seperti) masakan tanpa bumbu--bisa memuaskan rasa laparmu, tapi rasanya tidak enak." 
Winston C. pernah mengungkapkan, "Kesuksesan adalah terus melaju dari kegagalan satu ke kegagalan lain tanpa kehilangan antusiasme." 
David Frost berkata, "Jangan membidik kesuksesan jika kau menginginkannya; lakukan saja apa yang kau sukai dan apa yang kau percayai, maka kesuksesan akan datang secara alami.” 
Orang bijak pernah bilang, “Jika kau pernah memimpikan kesuksesan, cepatlah bangun dari tidur dan bekerja keraslah mendapatkannya.” 
Booker T. Washington mengatakan, “Kesuksesan itu tidak diukur dengan jabatan yang telah kau raih; tapi diukur dengan rintangan yang telah kau atasi.” 
Zig Ziglar pernah berkata, “Agar bisa meraih kesuksesan, terkadang kesengsaraan adalah hal yang butuh kau hadapi.” 
Albert Schweitzer mengatakan, “Kesuksesan bukanlah kunci kebahagiaan. Namun kebahagiaanlah kuci kesuksesan. Jika kau mencintai apa yang kau kerjakan, kau akan sukses.” 
Pablo Picasso pernah mengungkapkan, “Tindakan adalah kunci dasar setiap kesuksesan.” 
Bill Cosby berkata, “Agar bisa meraih kesuksesan, hasrat kesuksesanmu harus lebih besar dari rasa takut gagalmu.” 
Orang bijak mengatakan, “Manfaatkan kesempatanmu baik-baik jika kau ingin meraih kesuksesan.” 
Sophocles berkata, “Kesuksesan itu tergantung usaha.” 
Jon Bon Jovi pernah mengatakan, “Kesuksesan itu adalah jatuh 9 kali dan bangun 10 kali.” 

KATA MUTIARA TENTANG ORANG SUKSES 

Vince Lombardi pernah berkata, “Perbedaan antara orang yang sukses dengan orang yang tidak sukses itu bukan kurangnya kekuatan dan kurangnya pengetahuan, tapi kurangnya keinginan.” 
Dale Carniege mengatakan, “Orang yang sukses itu bisa mengubah kesalahannya sebagai keuntungan; lalu ia mencoba kesalahannya itu dengan cara yang berbeda.” 
Chanakya pernah berkata, “Sebelum mulai bekerja, selalu tanyakan 3 hal pada diri sendiri. 1) Mengapa saya melakukannya. 2) Apa kira-kira hasilnya. Dan 3) Akankah saya bisa sukses. Hanya satu jawaban paling memuaskan dari ketiga pertanyaan tadi. Teruskan!!"
Brian Tracy mengungkapkan, “Orang yang sukses itu selalu mencari kesempatan untuk membantu orang lain. Sementara orang yang tidak sukses itu selalu menanyakan, “Apa untungnya bagiku?” 
Tony Robbins mengungkapkan, “Orang yang sukses itu orang yang bisa mengajukan pertanyaan dengan baik; karena itu mereka mendapatkan jawaban yang lebih baik pula.” 
Golda Meir menyarankan kepada kaum hawa, “Agar menjadi wanita yang sukses, kau harus lebih baik dari kaum lelaki.” Orang bijak mengatakan, “Jika kau akan jadi orang sukses, jangan lupa berdo’a sebelum dan sesudah bekerja.” 
Orison Sweet Marden mengungkapkan, “Orang yang berpengaruh itu adalah orang yang sukses, baik dia itu kaya ataupun miskin.” 
Bernard Baruch mengatakan, “Kebanyakan orang sukses yang aku temui adalah orang yang lebih banyak mendengarkan daripada berbicara.” Seseorang pernah berkata, “Jika kau menginginkan kesuksesan, maka jangan pernah iri akan kesuksesan orang lain.” 
David Brinkley mengatakan, “Orang yang sukses itu adalah orang yang bisa membuat pondasi bangunan dengan batu bata yang dilemparkan orang lain kepadanya.” Orang bijak bilang, “Hal terberat hidup seorang yang sukses itu adalah mempertahankan kesuksesan.” 






Seorang eksekutif muda sedang beristirahat siang di sebuah kafe terbuka. Sambil sibuk mengetik di laptopnya, saat itu seorang gadis kecil yang membawa beberapa tangkai bunga menghampirinya.

”Om beli bunga Om.”

”Tidak Dik, saya tidak butuh,” ujar eksekutif muda itu tetap sibuk dengan laptopnya.

”Satu saja Om, kan bunganya bisa untuk kekasih atau istri Om,” rayu si gadis kecil.

Setengah kesal dengan nada tinggi karena merasa terganggu keasikannya si pemuda berkata, ”Adik kecil tidak melihat Om sedang sibuk? Kapan-kapan ya kalo Om butuh Om akan beli bunga dari kamu.”

Mendengar ucapan si pemuda, gadis kecil itu pun kemudian beralih ke orang-orang yang lalu lalang di sekitar kafe itu. Setelah menyelesaikan istirahat siangnya, si pemuda segera beranjak dari kafe itu. Saat berjalan keluar ia berjumpa lagi dengan si gadis kecil penjual bunga yang kembali mendekatinya.

”Sudah selesai kerja Om, sekarang beli bunga ini dong Om, murah kok satu tangkai saja.” Bercampur antara jengkel dan kasihan si pemuda mengeluarkan sejumlah uang dari sakunya.

”Ini uang 2000 rupiah buat kamu. Om tidak mau bunganya, anggap saja ini sedekah untuk kamu,” ujar si pemuda sambil mengangsurkan uangnya kepada si gadis kecil. Uang itu diambilnya, tetapi bukan untuk disimpan, melainkan ia berikan kepada pengemis tua yang kebetulan lewat di sekitar sana.

Pemuda itu keheranan dan sedikit tersinggung. ”Kenapa uang tadi tidak kamu ambil, malah kamu berikan kepada pengemis?” Dengan keluguannya si gadis kecil menjawab, ”Maaf Om, saya sudah berjanji dengan ibu saya bahwa saya harus menjual bunga-bunga ini dan bukan mendapatkan uang dari meminta-minta. Ibu saya selalu berpesan walaupun tidak punya uang kita tidak bolah menjadi pengemis.”

Pemuda itu tertegun, betapa ia mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari seorang anak kecil bahwa kerja adalah sebuah kehormatan, meski hasil tidak seberapa tetapi keringat yang menetes dari hasil kerja keras adalah sebuah kebanggaan. Si pemuda itu pun akhirnya mengeluarkan dompetnya dan membeli semua bunga-bunga itu, bukan karena kasihan, tapi karena semangat kerja dan keyakinan si anak kecil yang memberinya pelajaran berharga hari itu.

Tidak jarang kita menghargai pekerjaan sebatas pada uang atau upah yang diterima. Kerja akan bernilai lebih jika itu menjadi kebanggaan bagi kita. Sekecil apapun peran dalam sebuah pekerjaan, jika kita kerjakan dengan sungguh-sungguh akan memberi nilai kepada manusia itu sendiri. Dengan begitu, setiap tetes keringat yang mengucur akan menjadi sebuah kehormatan yang pantas kita perjuangan.




 
© 2012. Design by Main-Blogger - Blogger Template and Blogging Stuff